EARTH HOUR DI PAROKI KELUARGA KUDUS RAWAMANGUN

Posted by Admin Cantate On April - 1 - 2015 Comments Off on EARTH HOUR DI PAROKI KELUARGA KUDUS RAWAMANGUN

Kalian tentu pernah mendengar tentang gerakan Earth Hour yang biasa digelar dengan mematikan listrik selama 1 jam, bukan?

Earth Hour (Jam Bumi) adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada setiap Sabtu terakhir di bulan Maret. Kegiatan ini berupa pemadaman lampu listrik yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim. Kegiatan yang dicetuskan WWF dan Leo Burnett ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007 di Sydney. Ketika itu, 2,2 juta penduduk berpartisipasi dengan memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan. Setelah Sydney, beberapa kota di seluruh dunia ikut berpartisipasi pada Earth Hour 2008.

Memasuki tahun ketujuh, gerakan ini sudah berkembang dari satu kota menjadi 7.000 kota, dan dari satu negara menjadi 162 negara hingga menjadi kampanye lingkungan hidup global terbesar. Earth Hour di Indonesia pertama dilakukan di 2009. Earth Hour 2015 dilaksanakan pada 28 Maret 2015 pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat.

“Tahun ini, EARTH HOUR memberi kesempatan kepada publik untuk berpartisipasi dengan wadah yang berbeda-beda, kesemuanya adalah bagian dari #IniAksiku untuk menjaga kelestarian bumi dari ancaman perubahan iklim. Selain melanjutkan gaya hidup ramah lingkungan, earth hour mengundang kita semua untuk berkontribusi nyata kepada kegiatan-kegiatan konservasi yang digerakkan oleh Komunitas earth hour Indonesia,” ungkap Nyoman Iswarayoga, Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia.

Pada perayaan yang ketujuh kali ini di Indonesia, earth hour melalui ajakan #IniAksiku mengusung tema lokal ‘Hijaukan Hutan, Birukan Laut’. Pesan ini diwujudkan melalui kegiatan konservasi lokal melalui aksi-aksi di sektor laut dan pesisir, deforestasi, keanekaragaman hayati, sampah, sungai dan air, transportasi publik, dan energi.

Berbekal keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan, jauh-jauh hari Paroki Keluarga Kudus Rawamangun sudah mensosialisasikan kegiatan di hari terlaksananya ‘Earth hour’ ini. Khusus Earth Hour tahun ini, Romo Paroki melakukan perpanjangan waktu mematikan listrik di area Gereja menjadi 2 jam mulai pk.19.30-21.30.

Apa saja kegiatannya? Ayo kita simak berikut ini :

20150328-EarthH-01a

Mulai jam 05.30, halaman Aula sudah dipenuhi umat yang terlihat sangat antusias. Beberapa di antara mereka terlihat sengaja menggunakan kaos seragam : ada yang hitam, biru, hijau, putih, dll. Mau apa mereka? Ternyata mereka hendak mengikuti kegiatan jalan sehat. Dilihat dari buku pendaftaran, ternyata ada banyak kelompok pendaftar. Ada yang mendaftar mengikuti Lingkungannya, ada yang dari Legio Mariae, PDKK, WK,  Misdinar, OMK, dan dari Cantate Choir pun ada. Kalau dijumlah, totalnya berkisar 300 orang.

20150328-EarthH-1

Setelah dilakukan penjelasan seperlunya oleh MC Heri Blegug, acara dibuka dengan doa oleh Rm Sutarno MSF.

20150328-EarthH-3

Lalu, jalan sehatpun dimulai.  Rutenya tidak jauh, mulai dari halaman Aula Betlehem, bergerak ke arah Selatan sampai lampu merah Gereja Kristen Jawa, lalu  kembali lagi menuju halaman Aula. Mungkin jaraknya hanya 1-2 km saja.

20150328-EarthH-2

Setelah jalan sehat, peserta kembali berkumpul di lapangan depan Aula untuk mengikuti senam bersama. Acara senam dipandu oleh beberapa panitia dari Sie Lingkungan Hidup.

20150328-EarthH-5

Senam pertama berjudul senam Nusantara asal Flores. Senam kedua senam Duma. Saking antusiasnya peserta, begitu lagu pengiring berhenti mereka berteriak-teriak minta diulang. Akhirnya setelah melakukan 3x senam, kami dipersilakan istirahat menikmati  minum dan makan snack yang telah tersedia.

20150328-EarthH-4

Selesai beristirahat, peserta diajak melakukan kegiatan berikutnya yaitu kerja bakti bersih-bersih lingkungan di sekitar Gereja.

Sambil menunggu kerja bakti selesai, kami diajarkan cara membuat lubang biopori.

Apa sih biopori itu? Coba simak suntingan dari www.biopori.com berikut ini :

Biopori adalah  lubang-lubang di tanah yang terbentuk karena aktifitas organisme di dalamnya (Cacing, rayap, akar tanaman ,dll). Dengan adanya biopori maka kemampuan tanah untuk menyerap air akan lebih tinggi. Biopori dapat perbanyak dengan cara membuat lubang resapan biopori di tanah dan mengisinya dengan zat” organik (sebangai makanan organisme dalam tanah). Dengan bertambahnya makanan, organisme dalam tanah akan lebih aktif menciptakan biopori

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dan diisikan dengan sampah organik untuk memicu pembentukan biopori.

Keuntungan dari lubang resapan biopori

–          Meningkatkan daya resapan air dan mengurangi resiko banjir

–          Mengubah sampah organik menjadi kompos

–          Mengefisienkan pemanfaatan fauna tanah dan akar tanaman

–          Mengurangi emisi gas CO2

Alat yang dipakai untuk membuat lubang biopori adalah seperti ini :

20150328-EarthH-7

Cara pembuatan :

1         buat lubang silindris vertical di dalam tanah dengan diameter 10cm. kedalamannya kirang lebih 100cm atau tidak melebihi kedalaman air tanah jika air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang 50 – 100 c

2         mulut lubang dapat dipertebal dengan semen dengan ketebalan 2-3 cm dan lebar 2 cm

3         isi lubang dengan sampah organik (sampah dapur, hasil pangkasan rumput, dll). Jika sudah berkurang isi lagi. Lubang ini harus tetap terisi penuh dan tidak boleh kemasukan pasir atau tanah. (sampah yang berpotensi menimbulkan bau dapat direndam dengan sampah kering yang menyumbat lubang)

4         Kompos yang terbentuk di dalam lubang dapat diambil setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

20150328-EarthH-8

Lokasi biopori sebaiknya dibuat di tempat yang:

–          Bebas dari lalu-lalang

–          Sering dilalui air

–          Dekat dengan tanaman

Jumlah lubang yang disarankan dapat dihitung dengan rumus :

Jumlah LRB = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap () / laju peresapan air per lubang (L/jam)

Contoh : intensitas hijan suatu daerah 50 mm/jam , laju peresapan air perlubang 180 L/jam pada 100 bidang kedap. Maka jumlah LRB yang disarankan adalah 28 lubang( pembulatan).

Acara selanjutnya adalah pengumuman pemenang. Pemenang jalan sehat & senam pada acara ini diambil masing-masing 6 pemenang lelaki & perempuan.

20150328-EarthH-9

Setelah itu, para peserta dipersilakan untuk sarapan bersama dengan menu : mie ayam!! Wow! Tapi ternyata antriannya panjang banget. Jadi, sayapun pulang.

Siangnya, masih ada acara lain yaitu lomba menghias tempat sampah kreatif. Kali ini temanya adalah batik Nusantara. Lihatlah tempat-tempat sampah ini: jadi indah bukan? Kalau gak salah, jumlah pesertanya ada 13. Tempat-tempat sampah ini ditempatkan di beberapa area di lingkungan Gereja Katolik Keluarga Kudus Rawamangun.

20150328-EarthH-12

ada lagi seperti ini :

20150328-EarthH-11

Ini adalah gambar sewaktu penilaian lomba. Jurinya antara lain adalah Rm Tony MSF & Rm Tarno MSF.

20150328-EarthH-13

Malamnya, acara masih berlanjut. Pukul 19.30 lampu di area Gereja dipadamkan. Lalu, di Taman Doa Pieta dimulailah Doa Rosario Jam Bumi (Rosario Earth Hour) dipimpin Legio Mariae. Beberapa anggota Cantate Choir nampak hadir pula dalam keremangan malam itu.

Dengan menggunakan penerangan lampu minyak yang dipasang rapi di atas galah bambu, suasana taman doa terasa semakin syahdu. Meski hawa terasa gerah, namun kelap kelip lampu yang berjajar indah ditambah sinar temaram rembulan dari pucuk langit seolah menambah kekusukan umat dalam mengikuti Rosario ini. Dengan beberapa selingan doa untuk kelestarian bumi serta lagu-lagu pujian Maria di antara setiap peristiwa, butir-butir Rosario pun terus digulirkan sambil mengucap doa Salam Maria.

20150328-EarthH-6

Pukul 20.40, Doa Rosario selesai dilanjutkan dengan Misa yang dipimpin oleh Rm Andang Binawan SJ didampingi Rm Kepala Paroki Rm Tony MSF serta Frater Diakon Budi MSF. Koor malam itu digawangi anak-anak OMK dengan iringan gitar. Sayang sekali saya datang terlalu mepet waktunya karena mengikuti Gladi Resik Malam Jumat Agung dulu di Gereja sehingga saya mendapat tempat di belakang gua, jadi tidak bisa mengabadikan peristiwa ini melalui lensa kamera.

Di penghujung Misa, Rm Tony MSF mengumumkan pemenang lomba pembuatan tempat sampah kreatif sbb :

Juara 1 : Wilayah Paulus

Juara 2 : Wilayah Maria

Juara 3 : Wilayah Yoseph

20150328-EarthH-10R

Selamat kepada para pemenang, semoga tempat sampah yang dihasilkan bukan sekedar untuk penghias lingkungan tetapi bisa dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.

Kira-kira pukul 21.30, Misa selesai. Lampupun dinyalakan lagi. Duar…!! Lega rasanya ketika melihat terang kembali. Kamipun melanjutkan acara dengan ramah tamah di halaman samping Gereja.

 

kontributor : Fortunata Iin H.(Cantate Choir)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments are closed.

Sponsors