KETIKA ‘BERANI HIDUP’ ADALAH PILIHAN

Posted by Admin Cantate On February - 9 - 2015 Comments Off on KETIKA ‘BERANI HIDUP’ ADALAH PILIHAN

Malam itu gerimis belum mau berhenti ketika saya sedang bersiap melakukan rutinitas bermalam minggu di Sang Timur. Tapi mau gimana lagi, hari Sabtu malam memang sudah jadwalnya harus latihan koor jadi mau gak mau saya harus melawan rasa malas yang mengusik.

Sampai di Sang Timur, tumben-tumbenan latihannya sudah dimulai padahal baru 10 menit lepas dari jam 7. Hadeuh, ada apa nih?

“Kalau jadi kayaknya nanti mau nobar,” kata suami saya.

“Ha? yang bener? Bukan nobar bola lagi kan??”

“Emang kamu gak baca di group?” dia balik nanya. Waduh! Tahu sendiri akhir-akhir ini di rumah sinyalnya jelek, makanya saya sengaja matikan HP. Segera saya menghidupkan HP dan….. Oo, ternyata benar! Selepas latihan nanti, teman-teman sudah berencana mau nobar “Nada untuk Asa“.

Saya lalu masuk ruangan. Meski yang datang baru beberapa gelintir orang, mas Slamet sudah memulai latihan sesi I dibantu Tasja sebagai organist utk tugas Manten tgl 14 Feb. Dengar-dengar sih startnya dari jam 7 teng! Semua lagu dilatihkan dengan cepat karena memang tidak ada yang baru. Pukul setengah 8, sesi I kelar dilanjut Sesi II untuk persiapan tugas tanggal 15 Februari 2015 dengan organist mb Dewi. Pada sesi ini, kami melatihkan 3 buah lagu baru.

Jam setengah 9 latihan selesai. Kami pun bersiap berangkat ke bioskop dan mulai berhitung : ternyata terkumpul 22 orang! Mas Heri lalu mendahului menuju bioskop untuk membeli tiket. Sampai di bioskop, ternyata pengunjungnya sudah rame. Teman-teman bilang, film ini memang bagus, jadi gak heran kalau peminatnya membludak.

20150207-NUA3

Film “Nada untuk Asa” dipersembahkan oleh Sahabat Positif! Komsos KAJ dan diproduksi oleh Magma Entertainment dengan disutradai oleh Charles Gozali. Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dijadikan novel oleh Ita Sembiring, dan pernah pula ditampilkan dalam bentuk Drama Musikal yang berjudul “Positif! Nada untuk Asa” di Teater Jakarta, TIM, pada bulan September 2014 lalu oleh Komsos KAJ.

Film “Nada untuk Asa” ini dibintangi para artis papan atas Indonesia yang telah matang dan lihai dalam mengolah karakternya seperti Marsha Timothy yang memerankan tokoh bernama Nada, Acha Septriasa sebagai anak Nada bernama Asa, Mathias Muchus, Darius Sinathrya, Butet Kartaredjasa dan sederet artis top lainnya.

Seluruh keuntungan film Nada Untuk Asa ini akan diberikan untuk perbaikan Rumah Sakit Sint Carolus yang sudah berdiri sejak 95 tahun silam. Film ini bukan hanya ditujukan bagi umat Katolik saja, tetapi layak dikonsumsi oleh masyarakat umum secara luas dengan nilai-nilai yang diangkat sangat universal. Dengan menonton film ini, kita diharapkan dapat lebih menghargai kehidupan sebagai berkah yang luar biasa dari Sang Pencipta.

Sebelum kami masuk, kami menyempatkan diri berfoto dulu. Kurang afdol rasanya kalau belum ber-narsis ria…. hahaha….

20150207-NUA2

Jam 21, pintu theater pun dibuka. Dengan tertib, kami masuk dan menduduki tempat yang telah ditentukan.

Begitu film dimulai, perhatian kita langsung disedot oleh adegan pertama yang dilakukan di sebuah kompleks pemakaman. Nampak di sana sedang diadakan upacara pemakaman seorang bapak muda yang meninggalkan seorang istri dan 3 anaknya yang masih kecil. Selanjutnya, adegan demi adeganpun terus bergulir. Meskipun alur cerita menggunakan gaya flash back, tapi penyajiannya terlihat rapi sehingga tidak mengganggu dan tidak membuat penonton harus berpikir 2x dalam mengikuti ceritanya.

Secara ringkas : Film ini bercerita tentang sebuah tragedi hidup yang dialami seorang ibu muda bernama Nada (Marsha Timothy) yang ditinggal mati suaminya bernama Bobby (Irgi Fahreza). Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup yang pernah dirasakan Nada seolah sirna begitu saja ketika ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata suaminya meninggal akibat virus HIV positif. Lebih celakanya lagi, cobaan kembali datang secara tak terduga, karena ternyata satu-satunya lelaki yang pernah menyentuh dirinya secara intim tersebut meninggalkan aib dengan menularkan virus HIV kepada dirinya dan juga putri bungsu mereka, Asa (Acha Septriasa) yang masih berusia 1 tahun.

Pergumulan hidup tsb semakin terasa berat saja ketika ayahnya yang mantan Hakim Agung serta kakak kandungnya tidak bisa menerima kenyataan tsb dan malah mengucilkan dirinya. Namun, tragedi itu lantas membuat Nada berani hidup dan memperjuangkan hidupnya. Hal tsb nampak jelas dalam diri Asa – putrinya, yang meskipun mengidap HIV positif, tetap mampu memandang hidup sebagai sebuah pilihan. Meski dia dipecat dari pekerjaannya karena ketahuan mengidap virus HIV positif, meski usahanya berdagang kue secara online kadang-kadang terhambat dan dikembalikan karena pelanggan tidak mau menerima kue dari seorang koki pengidap HIV, tapi Asa tetap ceria dan selalu menerima semuanya dengan gembira. Sampai ketika Asa bertemu dan jatuh cinta dengan Wisnu (Darius Sinathrya), Asa tetap tidak berusaha menyembunyikan penyakitnya tsb.

20150207-NUA1

Film yang berdurasi sekitar 100 menit ini benar-benar mampu mengaduk emosi kita. Ada kalanya kita terseret kesedihan luar biasa, tapi ada juga saatnya kita tertawa dan gembira melihat keceriaan Asa yang diperankan dengan sangat apik oleh Acha Septriasa. Darius Sinathrya yang memerankan tokoh Wisnu, pria muda yang jatuh cinta kepada Asa, memberikan warna tersendiri dan mampu menyegarkan film dengan membuat penonton terharu karena cintanya yang mendalam pada Asa. Wulan Guritno dan Butet Kartaredjasa tampil singkat tapi mampu melengkapi gaya teatrikal film ini. Sementara kehadiran Pongki Barata memberikan kesan santai khas anak muda, sehingga memberikan paduan yang menarik untuk remaja, dewasa, maupun orangtua yang menonton film ini. Yang pasti, tidak rugi kita mengeluarkan uang untuk menontonnya.

IMG-20150209-WA010

Jadi, beranikah kita bersikap seperti Nada dan Asa?

kontributor : Iin Hadiyanti (Cantate Choir)

 

 

 

 

Comments are closed.

Sponsors