Perjalanan Penuh Berkat (19): BALADA PENYALIBAN

Posted by Admin Cantate On November - 27 - 2014 Comments Off on Perjalanan Penuh Berkat (19): BALADA PENYALIBAN

Pagi itu jalanan masih sepi, toko-toko yang kami lalui pun belum ada yang buka. Tapi kami sudah berjalan bergerombolan menyusuri lorong suatu jalan menuju sebuah bangunan di wilayah Yerusalem. Hari itu, agenda kami sungguh padat. Sebelum meninggalkan Hotel, Tour Guide kami pak Oded berpesan bahwa kita tidak boleh memisahkan diri dari rombongan, “tolong hati-hati dengan bawaannya ya, karena di sana ada banyak copet.” Hah? Copet? Gak salah? Saya kira kota suci itu bebas copet ya? Ternyata malah copet bebas berkeliaran? Tapi it’s ok lah… dimanapun kita memang harus hati-hati, bukan?

Setelah meninggalkan Kolam Bethesda dan Gereja St Anne, Pak Oded mengajak kami memasuki halaman sebuah Gedung dan mengatakan bahwa di sinilah dulu Tuhan Yesus mengawali perjalananNya memikul salib menuju pada wafat dan kebangkitanNya dalam sebuah kisah sengsara yang memilukan.

“Tempat ini disebut sebagai Benteng Antonis. Di sinilah perhentian pertama dan kedua pada rangkaian Jalan salib Tuhan,“ dia menjelaskan sambil menunjukkan beberapa tempat dimana Yesus diadili lalu diarak keluar serta dipaksa untuk memanggul salibNya yang berat. “Peristiwa jalan salib bukanlah sebuah dongeng melainkan sungguh nyata pernah terjadi. Dan di sinilah peristiwa itu dimulai!”

HL-20120429-via dolorosa1

Terngiang dalam benak saya urutan perhentian dalam upacara Jalan Salib yang sering kami lakukan setiap masa Pra Paskah :

Perhentian 1 : Yesus dijatuhi Hukuman Mati

Perhentian 2 : Yesus memanggul salib

HL-20120429-golgotha map

Kami lalu kembali berjalan beriringan. ”Jalan inilah yang disebut Via Dolorosa,” pak Oded menunjuk sebuah lorong sempit yang hendak kami lewati. Saya sempat tercengang. Seperti inikah jalan salib yang dilalui Tuhan? Dulu saya kira, saya akan melewati sebuah jalan minimal sebesar jalan yang dilalui Yesus saat Dia dielu-elukan pada Minggu Palma, tapi ternyata saya salah. Via Dolorosa hanyalah sebuah jalan sempit berbatu, berundak dan melewati keramaian sebuah pasar.

HL-20120429-via dolorosa2Penanda peristiwa (stasi) ke-3 sampai dengan 9 berada di pinggir jalan sepanjang lorong pasar dan hanya berupa sebuah tulisan tidak mencolok. Karena masih pagi, pintu-pintu kios pasar masih banyak yang tertutup rapat. Dan itu justru menguntungkan kami dan membuat kami jadi merasa lebih aman karena tidak harus bertemu dengan banyak pengunjung pasar sehingga peringatan pak Oded semalam tidak terlalu mengkhawatirkan.

Geliat kehidupan pasar baru terasa kira-kira di tengah perjalanan. Teriakan dari pak Oded untuk selalu waspada berulang dia ucapkan manakala beberapa anak kecil berlarian membelah jalan di antara rombongan kami. Katanya, mereka itulah yang sering berulah dengan tangan super cepatnya bekerjasama dengan seniornya yang lebih dewasa. Duh!

HL-20120429-via dolorosa3

Sambil menyusuri undakan yang seperti tiada habisnya, sungguh nyata rasanya kami membayangkan peristiwa itu terjadi. Ah, tak terbayangkan betapa malu dan terhinanya Tuhanku diarak melewati keramaian disaksikan wajah-wajah jahat dan penuh kebencian yang terus menghujatNya. Ditambah lagi pecutan dan pukulan yang bertubi-tubi mendera tubuhNya…. alangkah pedih dan perihnya!  Entah kayak apa beratnya palang kayu yang dipikulnya, belum lagi jalan yang menanjak dan berbatu-batu?

HL-20120429-via dolorosa4Setelah stasi ke-9, kami diajak masuk melalui sebuah pintu kecil sebuah bangunan layaknya jalan tikus, melewati tempat Ibadat / Gereja Koptik.

HL-20120429-via dolorosa6

Dan, di ujung jalan salib Tuhan tampak bangunan megah yang penuh dengan para peziarah : Gereja Holy Sepulchure atau Gereja Makam Kudus. Di dalam Gereja inilah terdapat 5 stasi terakhir yang biasa disebut sebagai stasi 10-14.

HL-20120429-via dolorosa7

Sayup-sayup terdengar bunyi teratur seperti bunyi kayu yang dihentakkan ke tanah lalu dari balik gedung di depan kami, munculah iring-iringan para imam, misdinar dan beberapa petugas yang rata-rata berjenggot mengikuti barisan tsb. Ternyata tepat ketika saya sampai, sedang ada upacara keagamaan entah dari Ordo Fransiskan atau iman Yunani. Perlu kita ketahui, Gereja Holy Sephulchure memang dimiliki 3 aliran yaitu : Fransiskanes, Armenia & ortodoks Yunani. Konon katanya kalau hari Jumat, para biarawan ordo Fransiskanes biasa melakukan Upacara jalan salib di sana.

HL-20120429-golgotha1a

Sambil menunggu selesainya upacara di atas, pak Oded menjelaskan bahwa letak Golgotha yang sebenarnya sampai sekarang masih menjadi pertentangan. Karena itu, di Yerusalem ini terdapat 2 tempat yang dipercaya sebagai Golgotha. Nah, yang sedang kita kunjungi sekarang ini adalah Golgotha versi Katolik. Lho?! Kok bisa?! Tidak kah tempat tsb disebut di dalam Injil?

Kalau kita membuka Injil Matius 27:57-61; Markus 15:42-47; Lukas 23:50-56; kita tidak akan menemukan letak pasti dari kubur Yesus karena di perikop tsb hanya disebutkan bahwa “…..lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru yang digalinya di dalam bukit batu…..” Sedangkan dalam Yohanes 19:38-42; disebutkan secara lebih rinci, bahwa : “Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu makam yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.“

Nah, karena hal itulah maka timbul penafsiran berbeda. Umat Katolik mengakui bahwa Golgotha terletak di dalam Church of the Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus sedangkan umat Kristen mempercayai bahwa Golgotha terletak di dalam Situs yang sekarang dinamakan Garden Tomb, yang baru akan kami kunjungi keesokan harinya.

Pak Oded lalu berkisah bahwa sebelum Gereja Makam Kudus dibangun,  di Bukit Golgotha pernah berdiri Kuil Aphrodite, yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi pada th.135 Masehi, sedangkan pembangunan Gereja Makam Kudus diperkirakan dikerjakan pada masa Kaisar Konstantin I berkuasa di jaman Bizantium antara tahun 272 – 337, bersama Ibundanya bernama St. Helena dengan dibantu oleh Uskup Makarius dari Yerusalem. Santa Helena, Ibunda Konstantin I, kemudian melakukan serangkaian eksvakasi di bukit Golgotha. Selain menemukan makam Yesus, Santa Helena juga menemukan pula kayu salib yang dia nyatakan sebagai Salib Yesus yang sebenarnya. Selain membangun Gereja Makam Kudus, Konstantin dan Helena juga mendirikan Gereja Kanak-Kanak Yesus (The Church of Nativity) di Betlehem yang pernah saya ceritakan sebelumnya.

Pada tahun 614, Raja Parsi Khosrau II, penganut Zoroastrianisme, menyerbu Yerusalem dan membakar Gereja Makam Kudus serta merampas Salib Suci. Tahun 630, Kaisar Heraklius membangun kembali Gereja Makam Kudus, dan mengembalikan Salib Suci. Setelah itu, penguasa Islam di Yerusalem, selalu melindungi situs-situs Kristen di Yerusalem dan sekitarnya. Namun perlindungan ini tidak abadi. Tahun 1009, Al-Hakim bi-Amr Allah dari Kekhalifahan Fatimid, kembali memerintahkan penghancuran Gereja Makam Kudus. Reaksi Bizantium, Tahta Suci, dan negara-negara Eropa terhadap perusakan Gereja Makam Kudus ini cukup keras, Peristiwa inilah antara lain yang menjadi salah satu pemicu Perang Salib (1095 – 1227).

holy sepulchre

Tahun 1227 dan 1228, selama berlangsung Perang salib ke enam terjadi negosiasi antara Kekaisaran Bizantium, dengan Ali az-Zahir, Khafilah Ketujuh dari Kekhalifahan Fatimid. Isi negosiasi, Constantine IX Monomachos, dan Patriarch Nicephorus dari Konstantinopel, akan mendanai pembangunan kembali Gereja Makam Kudus, dengan kompensasi pembukaan kembali Mesjid Konstantinopel. Tahun 1244, Yerusalem dan Gereja Makam Kudus, kembali direbut dan dikuasai oleh Kekaisaran Khwarezmians, yang berada di bawah pengaruh Kemaharajaan Mongol. Namun, kali ini, Gereja Makam Kudus tidak dirusak. Pada tahun 1555, Gereja Makam Kudus kembali direnovasi oleh para Rahib Fransiskan.

Namun tahun 1808, api kembali membakar kubah Rotunda serta dekorasi luar Edicule’s. Pembangunan kembali Rotunda dan Edicule’s dilakukan selama 1809–1810. Setelah Kota Tua Yerusalem dibagi empat untuk Islam, Yahudi, Ortodoks Armenia, dan Kristen, serta dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, Gereja Makam Kudus direnovasi. Renovasi dilakukan tahun 1973–1978, dilanjutkan tahun 1994–1997. Secara formal, pengelolaan komplek Gereja Makam Kudus sejak tahun 1555 berada di bawah Fransiskan dan gereja Ortodoks. Sejak itu bagian yang dikuasai Fransiskan aman-aman saja, tetapi kawasan Ortodoks, beberapa kali menjadi ajang sengketa antara Orthodoks Koptik, Ortodoks Ethiopia, dan Ortodoks Syria.

———

Kira-kira 15 menitan kemudian, kami memasuki Gereja. Tempat pertama yang bisa kita lihat adalah tempat pengurapan jenazah Yesus yang berupa semacam batu panjang yang dihiasi dengan lampu-lampu indah di atasnya. Wangi dupa yang dibakar menyeruak menembus hidung. Di sinilah 2000 tahun yang lalu Bunda Maria membersihkan dan mengurapi jenazah Yesus dengan wewangian setelah diturunkan dari SalibNya dengan dibantu Yusuf Arimatea beserta beberapa pengikutNya yang masih setia.

HL-20120429-golgotha1b

Lebih dalam lagi, terdapat sebuah ruangan yang dipercaya sebagai tempat Yesus disalib yang disebut sebagai Golgotha. Ruangan ini dihias dengan banyak sekali lampu gantung yang indah sedangkan di altarnya terdapat patung Yesus yang disalib. Penerangan di dalam ruangan ini agak temaram.

HL-20120429-golgotha3

Tapi ternyata di sinilah upacara yang saya sebutkan di atas dilakukan. Kamipun terpaksa menunggu dengan sabar sampai upacara tsb selesai.

HL-20120429-golgotha3b

Sangat disayangkan bahwa ternyata upacaranya memakan waktu yang cukup lama sehingga kami tidak bisa mencapai Golgotha lebih dekat karena ratusan umat dari rombongan peziarah lainpun memadati ruangan.

HL-20120429-golgotha2

Saya lalu menuruni tangga yang ada di dalam Gereja. Di ruang bawah Gereja, terdapat Makam Yesus yang kosong serta beberapa kapel yang lain. Penerangan yang ada di tempat ini relative remang-remang. Suasana nya lebih sepi dan terasa lembab akibat minimnya cahaya matahari.

Kayak gini lho suasananya…..

HL-20120429-golgotha4

HL-20120429-golgotha4b

Sambil menunggu teman-teman yang lain berkumpul, saya kembali membayangkan peristiwa sengsara dan jalan Salib Yesus yang barusaja saya alami. Terngiang lagi puisi karya W.S Rendra dalam ingatan saya:

Balada Penyaliban

Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu bagai domba kapas putih.

Tiada mawar-mawar di jalanan, tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta dan ditanam atas maunya.

Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Abraham berlutut, dua tangan pada Bapa:
Bapa kami di sorga, telah terbantai domba palling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga, Berilah kami bianglala!

Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.

Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.

Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?

Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.

Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
Bapa, selesailah semua!

 ——–

Ah, Yesus…. karena dosa kami maka Engkau rela menderita sedemikian sakitnya. Ampuni kami, ya Yesus! (fih)

Comments are closed.

Sponsors