TEMBANG KEHIDUPAN

Posted by Admin Cantate On September - 1 - 2015 Comments Off on TEMBANG KEHIDUPAN

Sobat, kemarin saya dapat postingan artikel dari seorang teman, gak tahu dia nemu dari mana. Biasalah, di group whatsapp kan sering banget dapet copas dari sumber yang gak jelas. Awalnya saya males ngebacanya, soalnya panjang banget. Tapi, ketika tanpa sengaja saya baca bagian akhirnya…. ternyata bagus lho! Sayang buat di delete!!

Kalau kita mau merenungkannya, memang benar bahwa perjalanan hidup ini bagaikan rangkaian tembang-tembang Jawa. Apabila tembang-tembang tersebut kita rangkaikan, urutannya bagaikan  tembang kehidupan, sebuah alur dari awal kehidupan hingga kita harus kembali ke pangkuan Sang Pencipta.Wow!! Ternyata pinter banget ya leluhur kita jaman dulu.

Coba simak baik-baik ya…..

1. Mas Kumambang. Dimulai dengan tembang Mas Kumambang, yang oleh sebagian orang Jawa dianalogikan dengan Emas yang Kumambang, yaitu diartikan sebagai Janin (Emas) yang ada (mengambang) di dalam perut ibu.

2. Mijil. Artinya adalah muncul, dimaksudkan bagaikan munculnya seorang bayi dari goa garba ibunda, yaitu ketika sang jabang bayi dilahirkan.

3. Kinanti. Setelah lahir, setiap bayi akan dibawa (dikanti) ke-mana2 oleh ayah bundanya, digendong kesana-kemari.

4. Sinom. Sing-enom (yang muda). Nama tembang ini sebagai simbol dari kehidupan masa remaja seseorang, menjadi Nom-noman (orang enom – orang muda).

5. Asmarandana. Dari kata-katanya sudah bisa ditebak bahwa tembang ini ada hubungannya dengan soal asmara. Tembang ini diumpamakan sebagai tahap ketika para muda-mudi mulai terkena panah asmara.

6. Gambuh. Ketika telah terjadi kecocokan, maka dua orang muda-mudi akan mengikatkan dirinya dalam sebuah perkawinan. Gambuh ini diartikan mirip dengan kata dalam bahasa Jawa “Jumbuh”, yang artinya cocok.

tembang kehidupan

7. Dandang Gula. Setelah memasuki masa perkawinan, pasangan muda akan mulai menikmati manisnya kehidupan berumah tangga. Mereka bagaikan mendandang Gula atau memasak Gula yang mempunyai rasa yang manis.

8. Durma. Dengan semakin mapannya kehidupan rumah tangga, setiap keluarga akan lebih mampu melaksanakan darmanya kepada sesamanya dengan memberikan derma dalam bentuk apapun dalam rangkaian melaksanakan perintah Tuhan.

9. Pangkur. Semakin lama, setiap manusia tentu saja akan sampai kepada fase usia lanjut, lalu perlahan-lahan akan mungkur (mundur) dari dunia ramai, pensiun.

10. Megatruh. Semua manusia punya batas usia, untuk kemudian kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mati. Megatruh dapat diurai menjadi dua kata, yaitu megat + ruh, megat berasal dari kata pegat (putus/ cerai) dan ruh (nyawa).

11. Pucung. Terakhir, manusia yang sudah mati, akan dibungkus dengan kain mori putih, yang oleh orang Jawa disebut pocong (mendekati kata pucung). Itulah akhir dari perjalanan hidup kita. Sampai di sini, tembang itupun berhenti.

Sobat, urutan tembang kehidupan di atas pastilah ada yang sudah, ada yang sedang dan ada yang akan kita lalui. Mari kita jalani seluruh rangkaian proses itu dengan sabar, jangan terburu nafsu dan putus asa agar tidak terjadi lompatan, seperti misalnya dari Dandang Gula langsung Megatruh. Kalau sampai melompat, kita sendiri yang rugi kan?

Ingatlah!! Hidup ini hanya sekali, jadi jangan disia-siakan!

Tuhan memberkati!! (fih)

Comments are closed.

Sponsors